Beberapa hari lalu, ketika kami keluar sebentar membeli kebutuhan sehari-hari, sekitar satu jam saja, kami pulang dan mendapati pintu apartemen terbuka. Kunci pintu telah dirusak. Kami masuk perlahan dan melihat kamar telah berantakan. Lemari pakaian terbuka, isi koper berserakan. Debora, istri saya, langsung mencari tas kecil berisi perhiasan warisan mamanya. Semua hilang. Uang hasil pelayanan kami di gereja juga dicuri. Kami segera melaporkan peristiwa itu kepada polisi. Beberapa jam kemudian polisi-polisi datang, dan malam hari tim forensik pun memeriksa apartemen kami.

Dua hari setelah peristiwa itu, saya mulai mempersiapkan khotbah untuk Minggu Adven Pertama ini. Bacaan Alkitab yang mesti kami baca adalah Matius 24:36-44. Ketika saya membaca ayat 43, saya tersenyum. Ayat itu seperti menggambarkan peristiwa yang baru saja kami alami. “Namun, ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu jam berapa pada malam hari pencuri akan datang, sudah pasti ia berjaga-jaga dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.”

Ada perbedaan antara apa yang dituliskan ayat 43 dan apa yang saya alami. Pencuri pada ayat 43 datang malam hari; sementara pencuri di apartemen yang kami tempati justru datang siang hari. Saya dan Debora tidak siap sedia untuk peristiwa pencurian di siang hari. Terlebih kalau terjadi pada malam hari! Lalu, pertanyaan timbul dalam hati: Apa maksud “siap sedia” yang Yesus nasihat pada ayat 44: “Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga”?

Saya terus merenung. Dengan membaca berulang kali perikop ini, diam-diam Roh Kudus menuntun saya untuk melihat peristiwa pahit yang baru saya alami dari sudut pandang baru. Roh Kudus menerangi pikiran dan hati saya bahwa nasihat “siap sedia” dari Yesus bukanlah pertama-tama soal mengantisipasi datangnya pencuri, tetapi soal kesiapan hati menghadapi peristiwa kehilangan.

Ada suara berkata dalam hati saya, “Hendri, ketika barang-barang yang kamu dan keluargamu perlukan hilang, bagaimana responsmu? Apakah kamu dikuasai resah, marah, dan putus asa? Atau kamu mampu teguh dan bersandar kepada Tuhan?” Setelah mendengar suara tuntunan Roh Kudus itu, saya merasa lega dan ikhlas dengan peristiwa kehilangan itu.

Menarik sekali apabila kita perhatikan kata-kata Yesus dalam Matius 24:40-41: “Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.”

Ada dua peristiwa kehilangan yang diceritakan. Pertama: peristiwa di ladang (ayat 40); dan kedua: peristiwa di tempat penggilingan (ayat 41). Apa yang hilang dalam dua ayat itu? Barang atau orang? Jawabnya: orang, yaitu seorang lelaki (ayat 40) dan seorang perempuan (ayat 41). Kalau kita menjadi teman atau pasangan dari orang-orang yang hilang itu, apa respons kita? Terkejut! Tidak siap. Itulah sebabnya Yesus menegaskan: “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu kapan harinya Tuhanmu datang” (Mat 24:42).

Jadi, nasihat “hendaklah kamu juga siap sedia” berkaitan erat dengan peristiwa kehilangan dalam hidup: kehilangan orang yang kita kasihi; kehilangan sesuatu yang kita andalkan; kehilangan yang mengguncangkan hati kita! Itu sebabnya, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri: “Apakah aku siap sedia, jika suatu hari apa atau siapa yang dekat dengan aku tiba-tiba hilang atau pergi?

Yesus mengerti betapa lemahnya hati manusia saat kehilangan. Yesus berkata: “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang berniat baik, tetapi tabiat manusia lemah” (Mat 26:41). Kita, manusia, mudah melekat pada apa yang kita miliki. “Semakin kita melekat pada apa yang dekat dengan kita, semakin kita tidak siap sedia jika apa yang dekat dengan kita itu diambil dari kita.” Seperti dua kertas yang melekat, semakin kuat melekat, semakin potensi menjadi rusak jika salah satu kertas diambil.

Yesus mengajak kita berjaga-jaga dan berdoa. Dengan perkataan lain, Yesus menasihatkan agar kita tetap menjaga orientasi hati atau arah hati kita, bukan kepada harta kekayaan, bukan pula kepada orang yang paling dekat sekalipun, tetapi kepada Allah yang memegang seluruh perjalanan hidup kita, masa lalu kita, masa kini kita, dan masa depan kita.

Minggu Adven Pertama mengingatkan bahwa Tuhan hadir di sepanjang sejarah hidup dunia dan hidup kita. Tuhan adalah Sumber setiap nafas, Pemilik segala yang kita sebut kepunyaan kita. Oleh karena itu, siap sedia berarti menaruh seluruh hidup kita di dalam tangan-Nya; mengakui bahwa damai sejahtera sejati tidak datang dari barang atau orang, tetapi dari Allah yang menjadikan langit dan bumi.

Hanya dengan iman, pengharapan, dan kasih kepada-Nya, kita mampu tetap berdiri ketika peristiwa kehilangan datang. Kita sekarang tidak perlu takut. Kita siap sedia. Kita  berjaga-jaga dan berdoa. Bersama Tuhan segala masa, kita tempuh perjalanan hidup kita. Tuhan menguatkan kita untuk siap sedia menghadapi peristiwa apa pun, termasuk peristiwa kehilangan yang mengejutkan. Memang, apa yang kita miliki di dunia ini pada suatu saat akan hilang. Tapi, ingatlah, kasih setia Tuhan tidak pernah hilang. Amin.

Amstelveen, 30 November 2025

h. m. sendjaja

____________________

Klaarstaan te midden van verlies — Matteüs 24:36–44 opnieuw gelezen

Een paar dagen geleden gingen we even de deur uit om wat dagelijkse boodschappen te doen, nog geen uur. Toen we thuiskwamen, stond de deur van ons appartement open. Het slot was geforceerd. We gingen voorzichtig naar binnen en zagen dat alles overhoop lag. De kastdeuren stonden open, de inhoud van koffers lag verspreid. Debora, mijn vrouw, zocht meteen naar het kleine tasje met sieraden die ze van haar moeder had geërfd. Alles was weg. Ook het geld dat we via onze bediening in de kerk hadden ontvangen, was gestolen. We hebben het meteen bij de politie gemeld. Een paar uur later kwamen agenten langs en ’s avonds onderzocht het forensisch team ons appartement.

Twee dagen daarna begon ik me voor te bereiden op de preek voor de eerste zondag van Advent. De Bijbellezing was Matteüs 24:36–44. Toen ik vers 43 las, moest ik glimlachen. Het leek precies op wat wij net hadden meegemaakt:Besef wel: als de heer des huizes had geweten in welk deel van de nacht de dief zou komen, dan zou hij wakker gebleven zijn en niet in zijn huis hebben laten inbreken.’

Toch is er een verschil. In het vers komt de dief ’s nachts, terwijl bij ons de inbraak juist overdag gebeurde. Debora en ik waren daar totaal niet op voorbereid — laat staan ’s nachts. Toen kwam de vraag bij me op: wat bedoelt Jezus eigenlijk met “klaarstaan”, wanneer Hij in vers 44 zegt: ‘Daarom moeten ook jullie klaarstaan, want de Mensenzoon komt op een tijdstip waarop je het niet verwacht.’

Ik bleef erover nadenken. Terwijl ik de tekst steeds opnieuw las, merkte ik hoe de heilige Geest me hielp om die pijnlijke gebeurtenis vanuit een ander perspectief te zien. Langzaam werd het me duidelijk: Jezus’ oproep om klaar te staan gaat niet in de eerste plaats over het voorkomen van een inbraak, maar over de bereidheid van je hart wanneer je iets verliest.

Het was alsof er een stem in mijn hart sprak: “Hendri, wanneer jij en je gezin iets kwijtraken wat jullie nodig hebben, hoe reageer je dan? Raak je overweldigd door onrust, boosheid en wanhoop? Of blijf je standvastig en vertrouw je op God?”
Na die innerlijke aansporing voelde ik rust. Ik kon het verlies loslaten en het aanvaarden.

Het is opvallend wat Jezus zegt in Matteüs 24:40–41: ‘Dan zullen er twee op het land aan het werk zijn, van wie de een zal worden meegenomen en de ander achtergelaten. Van twee vrouwen die met de molensteen aan het malen zijn, zal de ene worden meegenomen en de andere achtergelaten.’

Hier gaat het twee keer over verlies. Op het land en bij de molen. Wat wordt er verloren—spullen of mensen? Mensen. Een man en een vrouw. Stel dat jij hun vriend of partner bent. Wat voel je dan? Schrik. Onvoorbereidheid. Daarom zegt Jezus: ‘Wees dus waakzaam, want jullie weten niet op welke dag jullie Heer komt’ (Mat. 24:42)

De oproep om klaar te staan heeft dus alles te maken met verlies in het leven: het verlies van mensen van wie we houden, het verlies van iets waarop we steunen, verlies dat ons hart doet beven. Daarom is het goed om jezelf af te vragen: ben ik er klaar voor als op een dag iets of iemand die mij dierbaar is plotseling verdwijnt?

Jezus weet hoe kwetsbaar ons hart is bij verlies. Hij zegt: Blijf wakker en bid dat jullie niet in beproeving komen; de geest is wel gewillig, maar het lichaam is zwak’ (Mat. 26:41).

Wij mensen hechten ons gemakkelijk aan wat we hebben. Hoe sterker we ons vastklampen, hoe moeilijker het wordt wanneer het ons wordt afgenomen. Het is als twee stukken papier die aan elkaar kleven: hoe sterker ze vastzitten, hoe groter de kans dat ze scheuren wanneer je ze losmaakt.

Daarom nodigt Jezus ons uit om waakzaam te zijn en te bidden. Met andere woorden: richt je hart niet op bezit, en zelfs niet op de mensen die het dichtst bij je staan, maar op God, die heel ons leven draagt—ons verleden, ons heden en onze toekomst.

De eerste zondag van Advent herinnert ons eraan dat God aanwezig is in de hele geschiedenis van de wereld en ook in ons persoonlijke leven. Hij is de bron van elke ademhaling, de eigenaar van alles wat wij “van ons” noemen. Klaarstaan betekent daarom je hele leven in zijn handen leggen en erkennen dat ware vrede niet komt van dingen of mensen, maar van God, de Schepper van hemel en aarde.

Alleen met geloof, hoop en liefde kunnen we blijven staan wanneer verlies ons treft. We hoeven niet bang te zijn. We mogen klaarstaan. We blijven waakzaam en bidden. Samen met God gaan we onze levensweg. Hij geeft ons kracht om voorbereid te zijn op alles wat komt, ook op onverwacht verlies. Wat we in deze wereld bezitten zal ooit verdwijnen. Maar onthoud dit: Gods trouwe liefde verdwijnt nooit. Amen.

Amstelveen, 30 november 2025
h. m. sendjaja

Tinggalkan komentar

I’m Hendri

Welcome to Iman Berpijak—a space for engaging with the Living Word while remaining grounded in everyday life, amidst our wounds and hopes, and within our shared responsibility towards one another and the Earth we call home. The reflections here are sometimes written in Indonesian, English, or Dutch, reflecting the languages of the journey and serving as small offerings of reflection, story, and blessing.

Let’s connect