Hendri M. Sendjaja – 30 Januari 2026
Mengetahui tidak selalu dimulai dari jarak dan kendali. Kadang-kadang ia lahir dari ketergerakan batin yang mendahului pikiran. Refleksi ini mengajak kita melihat kembali belas kasihan sebagai awal dari cara mengetahui yang setia kepada kehidupan.
Kita hidup di zaman yang mengagungkan kejernihan, jarak, dan kendali. Untuk memahami sesuatu, kita diajar untuk mengambil langkah mundur: mengamati, menganalisis, lalu memutuskan. Semakin tidak terlibat, semakin dianggap objektif. Namun ada sesuatu yang ganjil terjadi: semakin banyak yang kita ketahui tentang dunia, semakin sulit rasanya untuk benar-benar peduli. Pengetahuan bertambah, tetapi kepekaan menipis. Kita tahu begitu banyak, namun sering kali tidak lagi tergerak.
Di tengah kebuntuan ini, tradisi Kristen menyimpan sebuah kata kecil dari bahasa Yunani yang mungkin dapat menolong kita melihat kembali apa arti mengetahui. Kata itu adalah esplanchnisthē. Biasanya diterjemahkan sebagai “tergerak oleh belas kasihan”. Secara etimologis, kata ini berasal dari splanchna, yang menunjuk pada organ-organ dalam—perut, isi dada, pusat kehidupan yang dalam dunia kuno dipahami sebagai tempat munculnya rasa dan keterikatan terdalam. Karena itu, esplanchnisthē tidak sekadar menamai sebuah emosi, melainkan sebuah ketergerakan dari dalam: dari perut, dari pusat kehidupan, dari tempat di mana manusia sungguh merasa hidup. Ia menamai sebuah gerakan batin yang mendahului pikiran dan melampaui kalkulasi.
Yang menarik, kata ini hampir selalu muncul sebelum sesuatu terjadi. Sebelum Yesus menyembuhkan, memberi makan, atau memulihkan relasi, teks mengatakan bahwa Ia tergerak hati-Nya oleh belas kasihan. Belas kasihan bukan reaksi belakangan, bukan kesimpulan moral setelah menimbang situasi. Ia adalah titik awal. Dari sanalah cerita bergerak.
Di sini kita berhadapan dengan cara mengetahui yang sangat berbeda dari kebiasaan kita. Dalam kisah-kisah Injil tersebut, pengetahuan tidak lahir dari jarak aman, melainkan dari keterlibatan. Yesus tidak memahami penderitaan dengan berdiri di luar dan mengamatinya. Ia mengetahui dengan membiarkan diri-Nya disentuh oleh apa yang Ia jumpai. Esplanchnisthē menandai pengetahuan yang tumbuh dari keterbukaan, bukan dari perlindungan diri.
Ini bukan sentimentalitas. Belas kasihan yang dinamai oleh esplanchnisthē bukan perasaan lembut yang cepat berlalu. Ia tidak menutup mata terhadap luka, dan tidak menjanjikan bahwa semuanya akan berakhir baik. Kadang-kadang, setelah belas kasihan itu, konflik justru meningkat. Kadang penderitaan tidak sepenuhnya terangkat. Belas kasihan di sini bukan teknik untuk menyelesaikan masalah, tetapi sikap untuk hadir secara penuh.
Justru di situlah daya kritiknya. Esplanchnisthē mengguncang anggapan bahwa untuk memahami dengan benar kita harus tetap tidak tersentuh. Ia menyatakan bahwa ketergerakan bukanlah suatu kelemahan, tetapi syarat bagi respons yang jujur. Yesus tidak terlebih dahulu menguasai situasi lalu memilih untuk berbelas kasihan. Ia membiarkan situasi itu menuntut diri-Nya.
Pola ini tampak jelas dalam kisah-kisah tentang kelaparan dan penyembuhan. Ketika orang banyak lapar, Ia tergerak—lalu memberi makan. Ketika yang sakit datang, Ia tergerak—lalu menyembuhkan. Belas kasihan tidak menggantikan tindakan, tetapi menjadi sumber dari tindakan itu sendiri. Belas kasihan dan tindakan tumbuh dari relasi. Mengetahui dan bertindak menyatu karena keduanya muncul dari kehidupan yang dibagikan.
Pengetahuan macam apa ini? Ia bukan pertama-tama tentang informasi. Ia tentang perhatian. Ia adalah pengetahuan yang lahir ketika seseorang cukup lama tinggal bersama kenyataan sehingga kenyataan itu menyentuhnya. Dalam arti ini, esplanchnisthē menamai kebijaksanaan yang menolak abstraksi. Ia menolak menjadikan penderitaan sebagai objek analisis semata. Sebaliknya, ia membuka ruang bagi keterlibatan—dan dengan itu, tanggung jawab.
Implikasinya terasa sangat relevan hari ini. Kita hidup di tengah krisis yang begitu besar sehingga sering kali melumpuhkan: krisis ekologis, ketimpangan sosial, migrasi paksa, kehilangan yang meluas. Menghadapi semua ini, kita mudah tergoda untuk bersembunyi di balik data, model, atau solusi teknis yang menjanjikan kendali. Kita ingin memahami tanpa harus terlalu tergerak.
Namun tata bahasa belas kasihan ini mengusulkan jalan lain. Ia tidak meminta kita memikul seluruh dunia, dan tidak pula berpura-pura bahwa semua dapat diperbaiki. Ia mengundang kita untuk tetap terbuka terhadap apa yang kita jumpai. Esplanchnisthē mengajarkan bahwa tanggung jawab bermula bukan dari kepastian, melainkan dari kesediaan untuk disentuh.
Ini tidak berarti emosi menggantikan penilaian. Sebaliknya, belas kasihan di sini bersifat membedakan. Ia mengenali apa yang penting dengan membiarkannya menjadi penting. Ia menangkap bobot kenyataan dan tidak menolak bobot itu. Pengetahuan yang lahir dari belas kasihan bukan pengetahuan yang kabur. Itu adalah pengetahuan yang berakar—karena ia tumbuh dari dalam relasi.
Di titik ini, jika kehadiran Yesus dari Nazaret diimani sebagai kehadiran Yang Ilahi, maka pemahaman tentang Allah pun ikut bergeser. Kisah-kisah Injil ini tidak menggambarkan Allah yang mengamati dunia dari kejauhan. Yang tampak adalah Allah yang mengetahui dunia dengan masuk ke dalamnya, dengan membiarkan diri-Nya tergerak oleh penderitaan dunia. Mengetahui secara ilahi (divine knowing) bukanlah pengawasan dingin, melainkan kehadiran yang berbelas kasihan.
Konsekuensinya bersifat etis, tetapi ia bukan pertama-tama sebuah etika. Ia adalah cara berada—sebuah postur. Dalam terang ini, mengikuti Yesus bukanlah terutama meniru serangkaian tindakan, melainkan belajar sebuah postur: postur keterbukaan yang tidak segera mencari penguasaan. Ini adalah latihan untuk tetap hadir dan peduli, bahkan ketika kenyataan terasa berat.
Postur ini menuntut. Ia membuat kita rentan. Ia meruntuhkan ilusi kendali. Ia menyeret kita ke dalam relasi yang tidak bisa kita atur atau selesaikan. Namun, justru di sanalah kebenaran dapat menampakkan diri—bukan sebagai sesuatu yang kita genggam, tetapi sebagai panggilan yang kita jawab.
Dalam budaya yang memuja efisiensi dan jarak, cara mengetahui ini mungkin tampak tidak praktis. Namun kisah-kisah tersebut menyiratkan bahwa justru di sinilah kehidupan paling nyata tersingkap. Belas kasihan bukan gangguan terhadap pengetahuan. Ia adalah awalnya.
Esplanchnisthē mengajak kita meninjau ulang apa arti memahami dunia. Mungkin mengetahui tidak bermula ketika kita menjauh, tapi justru ketika kita mendekat. Mungkin kebenaran pertama-tama hadir tidak sebagai kejernihan konsep, tapi justru sebagai ketergerakan batin yang memanggil kita masuk ke dalam kehidupan bersama. Dan mungkin, dengan belajar untuk tergerak, kita mulai mengetahui dengan cara yang setia kepada dunia yang terbuka, rapuh, dan layak untuk dirawat.

Tinggalkan komentar