Hendri M. Sendjaja
Setelah menjalankan misinya di Niniwe, Yunus tetap bergumul secara batin dengan belas kasihan Tuhan yang melampaui harapannya. Ketaatannya tampak rapuh: ia menjalankan tugas Tuhan, namun harus menghadapi kenyataan yang tak diinginkan. Pergulatan ini menyingkap kerapuhan manusia yang tetap setia sambil berjuang memahami makna dari apa yang ia lakukan.
Setelah pengalaman keterlemparan dan kesunyian di dalam makhluk besar, Yunus akhirnya pergi ke Niniwe dan melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya. Pada tingkat tindakan, tidak ada lagi penolakan. Ia berjalan memasuki kota itu, menyampaikan pesan yang singkat, dan melihat respons yang tak terduga: raja dan penduduk Niniwe bertobat. Narasi, secara lahiriah, bergerak menuju keberhasilan misi. Namun, justru pada titik inilah kisah Yunus memperlihatkan kedalaman yang bening dan hening. Ketaatan telah terjadi, tetapi batin Yunus tidak serta-merta berdamai dengan kenyataan yang dihasilkan oleh ketaatan itu.
Reaksi Yunus terhadap pertobatan Niniwe tidak muncul sebagai pemberontakan terbuka, melainkan sebagai kegelisahan yang tenang namun tajam. Ia melakukan tugasnya, tetapi hasil dari tugas itu tidak sesuai dengan harapannya sendiri. Yang ia bayangkan sebagai panggilan menuju penghukuman justru berubah menjadi peristiwa belas kasihan. Di sini, ketaatan Yunus tampak rapuh. Ia tidak menolak perintah, tetapi keyakinannya tentang bagaimana Tuhan seharusnya bertindak terguncang oleh kenyataan yang terjadi di hadapannya.
Kerapuhan ini tidak meniadakan ketaatan, melainkan menyingkapkan dimensinya yang lebih manusiawi. Yunus bukan lagi sosok yang lari, tetapi ia juga belum menjadi sosok yang sepenuhnya selaras dengan arah belas kasihan ilahi. Ia berdiri di antara dua hal: kesetiaan untuk menjalankan tugas dan kesulitan untuk menerima makna dari tugas tersebut. Ketegangan ini membuatnya tetap berada dalam relasi dengan panggilannya, dan sekaligus membuatnya tetap bergumul dengan konsekuensi dari panggilan itu sendiri.
Dalam bagian akhir Kitab Yunus, pergumulan ini muncul melalui dialog yang sederhana namun padat. Yunus mengajukan keberatan atas kemurahan Tuhan terhadap Niniwe. Sementara, Tuhan menyingkapkan keluasan belas kasihan yang melampaui batas-batas yang dibayangkan Yunus. Dialog ini tidak menyelesaikan konflik batin Yunus secara final. Tidak ada perubahan dramatis yang langsung menghapus keberatannya. Yang tersisa justru adalah ketegangan yang tetap terbuka: Yunus tetap berada dalam panggilannya, tetapi harus hidup dengan kenyataan yang tidak sepenuhnya ia inginkan.
Pembacaan ini menggeser cara kita memahami ketaatan. Ketaatan tidak selalu hadir sebagai keselarasan batin yang utuh. Ada bentuk ketaatan yang dijalani dalam keadaan rapuh, ketika seseorang tetap melaksanakan apa yang diyakininya sebagai tugas, namun masih berjuang memahami mengapa tugas itu menghasilkan kenyataan yang berbeda dari keyakinannya sendiri. Yunus menjadi figur dari ketaatan yang demikian. Ia setia dalam tindakan, tetapi tidak kebal dari kekecewaan dan kebingungan batin.
Pergulatan Yunus dengan kenyataan yang tak diinginkan menunjukkan bahwa keyakinan diri yang kuat tidak selalu menjamin kesiapan untuk menerima arah realitas. Ia memiliki keyakinan teologis yang jelas, tetapi justru keyakinan itulah yang membuatnya sulit menerima belas kasihan yang diberikan kepada Niniwe. Ketaatan yang lahir dari keyakinan dapat menjadi rapuh ketika kenyataan bergerak melampaui kerangka keyakinan tersebut. Di titik ini, Yunus tampil bukan sebagai nabi yang gagal, melainkan sebagai manusia yang harus belajar hidup dengan jarak antara apa yang ia yakini dan apa yang terjadi.
Dengan demikian, pergulatan Yunus bukan sekadar konflik antara taat dan tidak taat. Ia adalah pergulatan otentik seorang manusia berhadapan dengan kenyataan yang tidak ia inginkan, namun tidak dapat ia tolak sepenuhnya. Ia tetap berada dalam panggilan itu, sambil membawa pertanyaan-pertanyaan yang belum selesai. Kisah ini tidak menutup pergumulannya dengan jawaban yang rapi. Ia berakhir dalam keheningan reflektif, seolah mengundang pembaca untuk masuk ke dalam ketegangan yang sama: bagaimana tetap setia ketika kenyataan yang terjadi justru menantang keyakinan dan harapan kita sendiri?

Tinggalkan komentar