Hendri M. Sendjaja

Keterlemparan Yunus bukanlah sekadar hukuman, tetapi pengalaman tentang hidup yang dibentuk oleh pergumulan kontradiksi di dalam. Sebagai yang-terlempar, Yunus bukanlah korban murni. Sebagai yang-menyetujui keterlemparan, ia juga bukan pengendali bebas hidupnya. Dalam keterlemparan, kisah Yunus menyingkap kerapuhan hidup dan kemungkinan pematangan diri di tengah kontingensi hidup.

Adegan Yunus dilemparkan ke laut sering dibaca sebagai puncak hukuman atas pelariannya. Namun, jika kita memperlambat pembacaan, peristiwa itu membuka sesuatu yang lebih dalam. Yunus tidak sekadar dipindahkan dari kapal ke laut; ia dipindahkan dari ruang kendali ke ruang ketidakpastian. Ia berangkat dengan rencana yang jelas, dengan arah terpilih sejak awal. Tetapi badai datang, undi dibuang, dan keputusan kolektif para pelaut diambil. Dalam sekejap, jalur yang ia tentukan runtuh. Yunus tidak lagi mengatur arah; ia menjadi bagian dari arus peristiwa yang melampaui dirinya.

Di sini keterlemparan Yunus dapat dipahami sebagai pengalaman manusiawi yang mendasar. Dalam refleksi filsafat abad ke-20, Martin Heidegger menyebut kondisi dasar semacam ini dengan istilah Jerman Geworfenheit—keterlemparan. Menurutnya, manusia selalu mendapati dirinya sudah berada dalam dunia yang tidak ia pilih: lahir dalam sejarah tertentu, dibentuk oleh bahasa, tradisi, dan keadaan yang mendahuluinya. Keterlemparan bukan pertama-tama insiden dramatis, melainkan struktur dasar keberadaan. Dalam terang ini, peristiwa laut yang dialami Yunus bukanlah sekadar kejadian eksternal; itu adalah intensifikasi dari kondisi yang sebenarnya sudah menyertai setiap manusia, bahwa hidup tidak pernah sepenuhnya berada dalam genggaman kita.

Bagaimana pun juga, Yunus tidak sepenuhnya pasif. Ia sendiri berkata kepada para pelaut agar ia dilemparkan ke laut. Ada paradoks yang tenang di sini: Yunus menjadi yang-terlempar dan sekaligus yang-menyetujui keterlemparannya. Ia tidak dapat menghentikan badai, tetapi ia dapat menentukan sikapnya di tengah badai itu. Inilah ruang tipis antara keterbatasan dan response-ability. Yunus tetap memiliki agensi, walaupun agensi itu bekerja di dalam batas yang ia tidak tetapkan sendiri.

Dengan demikian, Yunus tampil sebagai figur kontingensi. Hidupnya dibentuk oleh pertemuan antara keputusan pribadi dan rangkaian peristiwa yang tidak dapat ia rancang. Badai, undian, dan keputusan para pelaut menunjukkan bahwa jalan hidup atau nasib manusia tidak pernah murni hasil kehendaknya sendiri. Kita merencanakan, tetapi dunia ikut menentukan. Kita memilih, tetapi pilihan kita berjumpa dengan kekuatan yang tak sepenuhnya dapat diprediksi.

Pengalaman ini tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Ada saat-saat ketika seseorang merasa “terlempar”: kehilangan yang datang tiba-tiba, perubahan yang memaksa penyesuaian, keputusan orang lain atau institusi tertentu yang mengubah arah hidup. Kita menyadari bahwa kebebasan kita nyata, tetapi tidak mutlak. Yunus mencerminkan kesadaran itu dengan jujur. Ia tidak menyangkal keterlibatannya dalam situasi yang terjadi. Namun, ia juga tak mampu mengendalikan seluruh jalinan peristiwa.

Menariknya, kisah ini tidak berhenti di laut. Yunus hidup di dalam “makhluk besar”—suatu ruang yang sekaligus menunda kematian dan membuka refleksi. Keterlemparan ternyata bukan akhir; itu adalah ambang. Dalam ruang yang tak ia pilih itu, Yunus dipaksa berhenti dari perjalanan atas kehendaknya sendiri. Yunus “dipaksa” berhadapan dengan dirinya sendiri. Ketika rencana runtuh, yang tersisa adalah kesadaran akan kerapuhan dan sekaligus pada kemungkinan pembentukan ulang.

Kisah Yunus mengingatkan bahwa menjadi manusia berarti hidup di antara rencana dan kejadian, antara kehendak dan nasib, antara keinginan dan kenyataan. Kita tidak sepenuhnya bebas, tetapi juga tidak sepenuhnya ditentukan. Justru, dalam keterlemparan—dalam momen ketika kendali terasa hilang—manusia dapat menemukan kedalaman baru tentang dirinya. Apa yang tampak sebagai kehancuran dapat menjadi awal dari pematangan yang tak pernah kita rancang sebelumnya.

Tinggalkan komentar

I’m Hendri

Welcome to Iman Berpijak—a space for engaging with the Living Word while remaining grounded in everyday life, amidst our wounds and hopes, and within our shared responsibility towards one another and the Earth we call home. The reflections here are sometimes written in Indonesian, English, or Dutch, reflecting the languages of the journey and serving as small offerings of reflection, story, and blessing.

Let’s connect