Hendri M. Sendjaja

Adegan membuang undi dalam kisah Yunus menunjukkan bahwa nasib manusia tidak selalu terjadi dari kebetulan, tetapi juga dari keputusan kolektif. Undian ada sebagai penunjuk satu tubuh untuk menanggung beban bersama. Kisah Yunus mengajak kita merenungkan kembali bagaimana konsep “nasib” sering terbentuk di persimpangan antara kontingensi hidup dan mekanisme sosial.

Setelah badai mengamuk dan para pelaut mencari sebab malapetaka itu, mereka mengambil satu tindakan yang tampak sederhana: membuang undi. Dalam banyak pembacaan, undian ini dipahami sebagai cara menemukan “siapa yang bersalah”. Undian jatuh kepada Yunus, dan dari situlah alur tragedi bergerak menuju keterlemparannya ke laut. Namun, jika adegan ini kita amati dengan lebih cermat, praktik membuang undi justru membuka refleksi yang lebih luas tentang bagaimana manusia menghadapi ketidakpastian dan bagaimana “nasib” sering kali dibentuk melalui keputusan kolektif yang dilegitimasi oleh prosedur tertentu.

Para pelaut berada dalam situasi krisis yang ekstrem. Badai mengancam nyawa mereka, dan mereka tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Dalam kondisi seperti itu, manusia cenderung mencari mekanisme yang dapat mengubah kekacauan menjadi keputusan. Di situlah undi berperan sebagai alat untuk menjembatani ketidaktahuan: sesuatu harus ditentukan, dan undian memberikan kepastian operasional. Dengan membuang undi, para pelaut tidak lagi sepenuhnya berada dalam kebingungan; mereka memperoleh satu nama, satu figur yang dapat ditunjuk sebagai pusat masalah.

Lalu ambiguitas moral pun muncul. Undian tidak hanya “mengungkap” penyebab bencana, tetapi juga “menciptakan” subjek yang harus menanggung beban krisis. Yunus memang kemudian mengakui pelariannya, tetapi sebelum pengakuan itu, undian telah lebih dulu menunjuk tubuhnya sebagai locus tanggung jawab. Dalam arti tertentu, undian mengubah kompleksitas situasi—badai, pelayaran, ketakutan kolektif—menjadi satu titik fokus: satu orang yang dapat dipersalahkan dan sekaligus dikorbankan demi keselamatan bersama.

Pembacaan ini membawa kita pada refleksi yang lebih luas tentang konsep “suratan takdir” atau “nasib” dalam kehidupan manusia. Kita sering berbicara tentang “orang yang beruntung” dan “orang yang tidak beruntung”, seolah-olah nasib adalah sesuatu yang sepenuhnya acak. Namun, kisah Yunus memperlihatkan bahwa nasib tidak selalu muncul dari kebetulan murni; “suratan takdir” juga dibentuk oleh mekanisme sosial yang tampak netral. Undian memberi kesan objektif: bukan manusia yang memilih, melainkan nasib yang menunjuk. Tetapi justru di situlah letak problemnya. Prosedur yang tampak netral dapat menyembunyikan fakta bahwa sebuah komunitas tetap harus menerima konsekuensi moral dari keputusan yang diambil.

Dengan perkataan lain, undian berfungsi sebagai legitimasi. Para pelaut tidak serta-merta menunjuk Yunus secara subjektif; mereka menggunakan prosedur yang memberi kesan bahwa keputusan itu datang dari luar diri mereka. Ini mengurangi beban rasa bersalah dan sekaligus menjaga kohesi kelompok. Mereka tidak sedang bertindak sebagai hakim yang sewenang-wenang, melainkan sebagai pelaksana dari sebuah hasil yang dianggap sah. Dalam konteks ini,undian menjadi cara manusia menyalurkan kecemasan moralnya: keputusan yang tragis tampak lebih dapat diterima ketika dibingkai sebagai “kehendak nasib”.

Refleksi ini terasa sangat relevan dengan pengalaman manusia modern. Dalam banyak situasi sosial, keputusan yang berdampak besar sering dilegitimasi oleh prosedur yang dianggap objektif: sistem, aturan, mekanisme formal, voting. Orang yang terkena dampak keputusan itu bisa saja merasa “ditunjuk oleh nasib”, padahal sebenarnya ia berada dalam jaringan keputusan kolektif yang lebih kompleks. Ada orang yang kebetulan lahir di tempat tertentu, mengalami krisis ekonomi, atau menjadi korban dari kebijakan yang dibuat demi kepentingan banyak orang. Dari sudut pandang individu, semua itu tampak sebagai nasib. Namun, dari sudut pandang sosial, ada proses penunjukan yang tidak selalu disadari.

Dalam kisah Yunus, undian memperlihatkan bagaimana komunitas yang sedang panik membutuhkan satu titik kepastian agar dapat bertindak. Tanpa kepastian itu, mereka akan terus terombang-ambing dalam ketakutan. Dengan adanya undian, krisis memperoleh arah: ada sesuatu yang bisa dilakukan, ada seseorang yang bisa dimintai penjelasan. Namun, kepastian ini datang dengan harga yang tidak kecil. Kompleksitas realitas dipersempit menjadi satu figur yang harus menanggung beban simbolik dan praktis sekaligus.

Menariknya, Yunus tidak menolak hasil undian itu. Ia mengakui identitasnya dan keterlibatannya dalam situasi yang terjadi. Di sini, kisah ini tidak hanya berbicara tentang mekanisme kolektif, tetapi juga tentang kesadaran individu yang menerima bahwa dirinya telah ditunjuk oleh rangkaian peristiwa yang lebih besar dari dirinya. Yunus tidak sepenuhnya menjadi korban pasif dari undian, tetapi ia juga tidak sepenuhnya bebas dari konsekuensi penunjukan itu. Ia berada di ruang antara: sadar bahwa nasibnya kini terikat pada keputusan kolektif yang telah diambil.

Melalui adegan “membuang undi”, kisah Yunus mengajak kita merenungkan kembali makna nasib dalam kehidupan manusia. Nasib bukan hanya soal kebetulan yang buta, tetapi juga tentang bagaimana komunitas mengambil keputusan di tengah ketidakpastian dan menunjuk siapa yang harus menanggung risikonya. Ada orang yang hidup dalam kondisi “beruntung” karena tidak pernah berada di titik penunjukan itu; ada pula yang menjadi “tidak beruntung” karena kebetulan berada di tempat dan waktu yang salah.

Bagaimana pun juga, narasi ini tidak berhenti pada logika nasib yang dingin. Dengan melanjutkan kisah Yunus setelah penunjukan itu, teks Kitab Yunus menolak pandangan bahwa nasib seseorang selesai ditentukan oleh satu prosedur kolektif. Yunus yang telah “ditunjuk” dan dilempar tidak hilang dari sejarah; hidupnya justru bergerak ke tahap berikutnya yang tak terduga. Di sini, kisah Yunus membuka kemungkinan penting: sekalipun manusia sering ditentukan oleh mekanisme sosial yang tampak seperti nasib, kehidupan tetap menyimpan ruang bagi makna baru yang melampaui keputusan-keputusan yang pernah dianggap final.

Tinggalkan komentar

I’m Hendri

Welcome to Iman Berpijak—a space for engaging with the Living Word while remaining grounded in everyday life, amidst our wounds and hopes, and within our shared responsibility towards one another and the Earth we call home. The reflections here are sometimes written in Indonesian, English, or Dutch, reflecting the languages of the journey and serving as small offerings of reflection, story, and blessing.

Let’s connect