Hendri M. Sendjaja

Dalam situasi krisis, komunitas sering mencari figur yang dapat menanggung kecemasan dan tanggung jawab bersama. Kisah Yunus memperlihatkan bagaimana keputusan kolektif dapat menyederhanakan kompleksitas krisis dengan menunjuk satu tubuh sebagai korban demi keselamatan banyak orang. Refleksi ini mengajak kita mempertanyakan kolektivisme yang kerap memproduksi korban untuk memulihkan rasa aman bersama.

Setelah undian jatuh kepada Yunus dan badai tak kunjung reda, para pelaut menghadapi dilema tak terelakkan: bagaimana menyelamatkan banyak nyawa tanpa menanggung beban moral yang terlalu berat? Mereka berusaha untuk menyelamatkan kapal, tetapi sejauh ini gagal. Situasi memaksa mereka mengambil keputusan ekstrem—melempar Yunus ke laut. Di titik ini, kisah Yunus memperlihatkan sesuatu yang lebih dari sekadar drama individu. Kisah ini membuka gambaran tentang bagaimana komunitas, dalam situasi krisis, cenderung menunjuk satu figur untuk menanggung beban kolektif.

Kita sering membayangkan kolektivisme sebagai sesuatu yang positif: solidaritas, kebersamaan, saling menanggung. Namun, kisah ini memperlihatkan sisi lain yang lebih gelap. Dalam kondisi darurat, komunitas tidak hanya mencari cara untuk bertahan hidup, tetapi juga mencari satu titik yang dapat memikul seluruh kecemasan dan tanggung jawab bersama. Yunus menjadi titik itu. Ia bukan sekadar individu yang bersalah; ia berubah menjadi simbol solusi bagi keselamatan kelompok. Dengan melemparkannya, para pelaut berharap badai berhenti dan tatanan kembali pulih.

Di sinilah kita melihat mekanisme produksi korban. Komunitas yang terancam cenderung menyederhanakan kompleksitas krisis dengan menunjuk satu tubuh sebagai penyebab dan sekaligus sebagai jalan keluar. Proses ini tidak selalu dilakukan dengan niat jahat. Para pelaut bahkan berdoa agar tidak dianggap menumpahkan darah orang yang tidak bersalah. Doa itu menunjukkan bahwa mereka sadar tentang ambiguitas moral tindakan mereka. Namun, kesadaran itu tidak menghentikan keputusan yang harus diambil. Keselamatan kolektif akhirnya ditempatkan di atas nasib individu.

Fenomena seperti ini bukan hanya milik narasi kuno. Dalam berbagai konteks sosial, kita melihat pola serupa: ketika krisis melanda, komunitas mencari figur yang dapat dipersalahkan. Seorang pemimpin dijadikan kambing hitam atas kegagalan sistem, minoritas disalahkan atas keresahan sosial, atau individu tertentu dianggap mewakili masalah yang sebenarnya jauh lebih kompleks. Dengan menunjuk satu pihak, kecemasan kolektif memperoleh saluran, dan komunitas merasa telah mengambil tindakan tegas. Namun, tindakan itu sering menyembunyikan fakta bahwa masalah yang dihadapi tidak pernah sesederhana menunjuk satu orang.

Kisah Yunus menyingkap dengan tenang bagaimana mekanisme “persembahan korban” dapat bekerja secara begitu terang. Dalam situasi ketegangan kolektif, komunitas perlahan-lahan memusatkan kecemasan dan kekacauan pada satu figur yang lalu diperlakukan sebagai sumber gangguan dan sekaligus jalan keluar. Di sini kita dapat mengingat apa yang disebut oleh René Girard sebagai scapegoat mechanism: satu dorongan kolektif untuk meredakan konflik internal dengan menyalurkannya kepada satu korban. Dalam lensa ini, kekerasan terhadap korban bukan semata-mata tindakan individual, melainkan cara komunitas mengalihkan dan menetralkan ketegangan yang mengancam kohesinya. Figur yang ditunjuk itu dipersempit menjadi penyebab tunggal dari krisis yang sesungguhnya berlapis-lapis dan saling terkait. Stabilitas yang tampak pulih melalui pengorbanan tersebut pun menyisakan pertanyaan etis yang tidak pernah sepenuhnya terjawab.

Para pelaut bukanlah orang kejam yang sejak awal ingin mengorbankan Yunus. Mereka ragu. Mereka berusaha mencari jalan lain. Mereka menyadari kemungkinan bahwa Yunus tidak sepenuhnya bersalah. Namun, tekanan situasi membuat mereka harus memilih: semua orang tenggelam atau satu orang dilemparkan. Dalam logika krisis, pilihan tragis seperti ini sering tampak sebagai satu-satunya jalan yang rasional.

Pembacaan kritis di sini tidak bermaksud menghakimi para pelaut secara moral. Justru sebaliknya, kisah ini memperlihatkan betapa mudahnya manusia biasa terjebak dalam keputusan yang ambivalen ketika berhadapan dengan ancaman nyata. Mereka tidak jahat; mereka hanya berada dalam situasi yang memaksa mereka menimbang keselamatan kolektif melawan nasib individu. Tragedi muncul bukan dari niat jahat, tetapi dari struktur situasi yang menuntut pengorbanan.

Dalam konteks seperti ini, Yunus menjadi figur yang menanggung beban simbolik dari seluruh krisis. Ia dipersempit menjadi “penyebab badai”, padahal badai itu sendiri adalah peristiwa kompleks yang melibatkan alam, perjalanan laut, dan ketakutan kolektif. Dengan menjadikan Yunus sebagai pusat masalah, komunitas memperoleh narasi yang sederhana: jika ia dilempar, badai akan berhenti. Narasi yang sederhana ini memberi rasa kendali di tengah kekacauan, meskipun harus dibayar dengan pengorbanan seorang individu.

Refleksi ini menantang kita untuk melihat kembali kecenderungan kolektivisme dalam kehidupan masa kini. Solidaritas memang penting, tetapi solidaritas yang dibangun di atas penunjukan korban selalu menyimpan problem etis. Solidaritas di kapal yang Yunus tumpangi menciptakan suatu ilusi bahwa tatanan dapat dipulihkan hanya dengan menyingkirkan satu individu. Padahal, sering kali krisis berasal dari jaringan sebab yang jauh lebih luas dan tidak dapat diselesaikan dengan satu tindakan simbolik saja.

Menariknya, kisah Yunus tidak membiarkan logika kolektivisme ini menjadi kata akhir. Yunus yang dilempar tidak lenyap sebagai korban yang selesai. Ia justru melanjutkan hidupnya dengan cara tak terduga. Dengan demikian, narasi ini secara implisit mempertanyakan finalitas keputusan kolektif: apakah benar komunitas dapat menyelesaikan krisis hanya dengan menunjuk dan mengorbankan satu individu? Ataukah kehidupan manusia selalu melampaui skema sederhana tersebut?

Melalui adegan ini, kisah Yunus mengajak kita merefleksikan kecenderungan dasar komunitas manusia: keinginan untuk menemukan satu pihak yang dapat memikul seluruh beban bersama. Dalam situasi krisis, dorongan ini terasa masuk akal, bahkan perlu. Namun, kisah ini juga menunjukkan bahwa di balik rasionalitas kolektif itu, selalu ada kerapuhan hidup seorang individu yang harus menanggung konsekuensi dari keputusan bersama. Yunus menjadi satu cermin bagi pertanyaan yang lebih luas: ketika kita menyelamatkan kapal institusional dan banyak orang di kapal kita dengan menunjuk satu korban, apakah kita sungguh menyelesaikan masalah? Atau, jangan-jangan kita hanya menenangkan kecemasan kolektif kita untuk sementara?

Tinggalkan komentar

I’m Hendri

Welcome to Iman Berpijak—a space for engaging with the Living Word while remaining grounded in everyday life, amidst our wounds and hopes, and within our shared responsibility towards one another and the Earth we call home. The reflections here are sometimes written in Indonesian, English, or Dutch, reflecting the languages of the journey and serving as small offerings of reflection, story, and blessing.

Let’s connect