Hendri M. Sendjaja – 31 Januari 2026
Belas kasihan bukan sekadar perasaan sesaat. Melalui theopatheia, tulisan ini mengajak kita memahami mengetahui sebagai postur keterbukaan—cara berada yang dibentuk oleh kesediaan untuk terpengaruh, tinggal bersama kenyataan, dan memikul tanggung jawab tanpa penguasaan.
Ketika kita berbicara tentang belas kasihan, banyak orang langsung memikirkannya sebagai perasaan. Belas kasihan dipahami sebagai sesuatu yang kita rasakan: simpati, empati, atau kehangatan hati ketika berjumpa dengan penderitaan. Pemahaman ini tidak salah, tetapi belum cukup. Dalam tradisi teologi Kristen, ada cara yang lebih dalam dan menantang untuk berbicara tentang belas kasihan—cara yang tidak hanya menyangkut apa yang kita rasakan, tetapi bagaimana kita mengetahui.
Di sinilah sebuah istilah tua dari tradisi teologis menjadi penting: theopatheia.
Sekilas, kata ini terdengar asing dan teknis. Namun maknanya justru sangat dekat dengan pengalaman hidup. Secara etimologis, theopatheia tersusun dari dua kata Yunani: theos (Allah) dan pathos (apa yang dialami, ditanggung, atau diterima). Dalam penggunaan teologisnya, pathos pertama-tama menunjuk bukan pada emosi yang meledak-ledak, melainkan pada kesediaan untuk mengalami dan menerima keterpengaruhan. Oleh karena itu, theopatheia tidak berarti bahwa Allah bersifat emosional seperti manusia, atau bahwa kita sekadar meniru perasaan ilahi. Ia menunjuk pada sebuah postur mengetahui yang dibentuk oleh keterbukaan untuk terpengaruh, bukan oleh hasrat untuk menguasai.
Dengan perkataan lain, theopatheia bukanlah tentang memiliki perasaan yang “benar”, melainkan tentang belajar bagaimana berdiri, memperhatikan, dan tetap terbuka di hadapan Allah dan dunia.
Perbedaan ini penting. Dalam banyak wacana kontemporer—baik religius maupun sekuler—emosi sering diperlakukan sebagai pemicu tindakan. Kita didorong untuk merasa cukup peduli agar kemudian bertindak. Belas kasihan menjadi semacam bahan bakar: ketika perasaan itu kuat, kita bergerak; ketika ia memudar, perhatian pun menghilang. Dalam pola ini, kepedulian bersifat sementara dan mudah habis.
Theopatheia menolak pola semacam ini. Ia tidak memahami belas kasihan sebagai dorongan sesaat, melainkan sebagai cara berada yang dibentuk perlahan dalam waktu. Ia tidak bekerja di tingkat impuls, tetapi di tingkat postur.
Postur berbeda dari sikap atau pendapat. Postur bukan sesuatu yang kita ambil lalu lepaskan dengan mudah. Ia dipelajari melalui latihan, pengulangan, dan relasi. Postur membentuk cara kita memandang kenyataan bahkan sebelum kita mulai menilai atau memutuskannya. Itu sebabnya, berbicara tentang theopatheia sebagai postur berarti mengatakan bahwa cara kita mengetahui dibentuk oleh cara kita membiarkan diri kita disapa dan disentuh oleh kenyataan.
Cara mengetahui ini sangat kontras dengan kebiasaan yang mendominasi kehidupan modern. Kita dilatih untuk menghargai jarak, kejernihan, dan kendali. Pengetahuan yang dipercaya adalah pengetahuan yang mengklaim netralitas dan efisiensi. Kita belajar menyembunyikan kerentanan dan menjaga agar diri kita tidak terlalu terpengaruh. Dalam konteks seperti ini, membiarkan diri terpengaruh sering dianggap tidak profesional, tidak rasional, atau bahkan lemah.
Namun, tradisi Kristen berulang kali menegaskan bahwa pengetahuan yang jujur tidak bermula dari jarak, melainkan dari partisipasi—suatu keterlibatan yang aktif. Seseorang tidak sungguh mengenal Allah—atau dunia—dengan berdiri di atasnya. Pengetahuan lahir ketika seseorang masuk ke dalam relasi dan membiarkan dirinya dibentuk oleh perjumpaan demi perjumpaan.
Theopatheia menamai cara mengetahui semacam ini. Ia menggambarkan sebuah disiplin keterbukaan di mana sang penahu (the knower) tidak tergesa-gesa menstabilkan makna atau mengamankan posisi. Theopatheia melatih kita untuk hadir cukup lama sehingga pengertian tumbuh dari dalam kehidupan yang dibagikan. Pengetahuan sejati tidak diperoleh dengan merebut dan menguasai, melainkan dengan membiarkan diri tersentuh dan terbuka.
Ini bukan berarti menolak akal budi atau refleksi. Justru sebaliknya, theopatheia menempatkan rasio pada tempatnya yang tepat. Berpikir mengikuti relasi. Artikulasi lahir dari perhatian. Bahasa menjadi tanggapan, bukan alat kendali. Pengetahuan matang secara perlahan, dibentuk oleh kesabaran dan kerendahan hati, bukan oleh tuntutan kecepatan dan kemegahan.
Dari perspektif ini, theopatheia bukanlah pelarian ke dalam pasivitas. Theopatheia adalah praktik yang menuntut. Tetap terbuka itu mahal. Ia menuntut kita menahan dorongan untuk menyederhanakan, menjelaskan terlalu cepat, atau memaksakan solusi. Theopatheia meminta kita tinggal bersama kenyataan yang tidak baik-baik saja—bersama penderitaan, ambiguitas, ketidakpastian, dan kehilangan.
Dengan demikian, theopatheia sangat relevan bagi zaman kita. Kita hidup di tengah krisis-krisis yang saling bertumpuk: krisis ekologis, keterpecahan sosial, korupsi dan ketidakadilan yang bertahan lama. Menghadapi aneka tekanan ini, kita sering tergoda untuk mencari penguasaan. Kita menginginkan jawaban yang menjanjikan kendali dan solusi yang dapat dijalankan dari jarak aman.
Namun, penguasaan—bahkan yang berniat baik—dapat menjadi bentuk penghindaran. Penguasaan melindungi kita dari keterpengaruhan. Penguasaan memungkinkan kita bertindak tanpa harus berubah. Theopatheia menggugat kecenderungan ini. Theopatheia menegaskan bahwa tanggung jawab tidak bermula dari perintah, tetapi dari partisipasi—bukan dari keberjarakan yang pasif dengan dunia, tetapi dari kebersamaan yang aktif dengan dunia.
Mengetahui dengan cara ini berarti menerima bahwa pengertian membawa gravitasi. Ketika kita mengetahui dari dalam relasi, kita tidak dapat tetap tak tersentuh. Pengetahuan itu mengikat kita, menarik kita ke dalam jaringan konsekuensi dan kepedulian. Demikianlah theopatheia tidak dapat direduksi menjadi emosi. Perasaan dapat datang dan pergi, tetapi postur tetap bertahan.
Penting untuk dicatat bahwa postur ini tidak menjanjikan kejernihan penuh atau keberhasilan. Pengetahuan yang dibentuk oleh theopatheia sering tumbuh dalam keburaman, bahkan kekelaman. Kita belajar tanpa memiliki, merespons tanpa menjamin hasil, dan berharap tanpa mengendalikan masa depan. Ini bukanlah kelemahan. Ini adalah kesetiaan.
Dalam kerangka ini, theopatheia menolong kita memahami tanggung jawab secara lebih dalam. Tanggung jawab tidak muncul karena kita telah memecahkan masalah atau merancang solusi. Tanggung jawab muncul karena kita telah membiarkan diri kita disapa dan disentuh. Kita merespons karena kita sudah terlibat.
Pengetahuan semacam ini berjalan lambat, butuh waktu. Ia bertumbuh melalui perhatian yang tidak lari ketika kenyataan menuntut pengorbanan. Ia belajar mendengar sebelum berbicara dan tetap hadir ketika jawaban belum tersedia. Dalam budaya yang memuja kecepatan dan kepastian, cara mengetahui ini mungkin terasa tidak efisien. Namun, justru kelambatan inilah yang memungkinkan kebenaran muncul bersinar tanpa kekerasan.
Pada akhirnya, theopatheia mengajak kita untuk meninjau ulang apa arti mengetahui dengan baik. Mengetahui dengan baik bukan berarti mengetahui segalanya. Mengetahui dengan baik bukanlah akumulasi informasi atau penguasaan sistem. Ia adalah pembentukan postur yang mampu menerima kenyataan sebagaimana adanya—rapuh, belum selesai, dan dibagikan bersama.
Sebagai postur, theopatheia tidak memberitahu kita secara rinci apa yang harus kita lakukan. Theopatheia membentuk cara kita hadir dan memahami sebagai orang yang mengetahui. Ia melatih perhatian, kesabaran, dan kerendahan hati. Theopatheia mengajarkan kita bagaimana tetap terbuka tanpa tenggelam dan bagaimana merawat tanpa menguasai.
Di dunia yang terluka, mungkin inilah salah satu bentuk kebijaksanaan yang paling dibutuhkan: bukan pengetahuan yang melindungi kita dari ketergerakan, melainkan pengetahuan yang memungkinkan kita tergerak—tanpa kehilangan arah.

Tinggalkan komentar