Hendri M. Sendjaja – 02 Februari 2026
Salib menyingkapkan belas kasihan yang tidak menjanjikan hasil, tetapi setia bertahan. Tulisan ini merenungkan bagaimana mengetahui memerlukan pengorbanan ketika kesetiaan menggantikan penguasaan, dan bagaimana peristiwa salib Kristus membentuk cara mengetahui yang bertahan tanpa mengendalikan dan tanpa jaminan keberhasilan.
Belas kasihan sering dibayangkan sebagai respons yang membawa hasil. Kita berharap belas kasihan menyembuhkan, menyelesaikan, atau setidaknya memperbaiki keadaan. Ketika belas kasihan tampak tidak efektif—ketika penderitaan berlanjut, kekerasan meningkat, dan kehilangan tidak dapat dipulihkan—kita mulai meragukan nilainya. Apa gunanya belas kasihan, jika dunia tetap tidak berubah?
Kisah Kristen menempatkan pertanyaan ini tepat di pusat peristiwa salib Kristus.
Dalam kisah-kisah tentang Yesus, belas kasihan berulang kali dinamai dengan kata esplanchnisthē: Yesus tergerak dari dalam sebelum Ia bertindak. Belas kasihan tampil sebagai daya yang hidup dan responsif. Ia memberi makan yang lapar, menyembuhkan yang sakit, memulihkan yang tersingkir. Namun dalam peristiwa salib, sesuatu berubah secara mendasar. Belas kasihan tidak lagi mengarah pada penyelesaian yang tampak. Tidak ada kerumunan yang kenyang, tidak ada tubuh yang dipulihkan, tidak ada konflik yang diredakan. Yang tersisa adalah kehadiran—berisiko, terbuka, dan tampak tidak berhasil.
Jika momen-momen sebelumnya memperlihatkan belas kasihan sebagai gerak menuju tindakan, peristiwa salib memperlihatkan belas kasihan yang tetap tinggal ketika tindakan tidak lagi dapat menjamin hasil. Di sini, esplanchnisthē mencapai kedalaman yang mengguncang harapan kita. Belas kasihan tidak lenyap tetapi bertahan tanpa penguasaan.
Ketahanan inilah yang menentukan. Salib memperlihatkan bahwa belas kasihan bukan sekadar sarana menuju tujuan. Ia tidak dibenarkan oleh keberhasilan. Ia tidak ada untuk membuktikan kegunaannya. Di salib, belas kasihan menjadi kesetiaan—kesediaan untuk tetap bersama apa yang tidak dapat diperbaiki.
Di titik inilah theopatheia menjadi terang.
Jika sebelumnya theopatheia dipahami sebagai postur mengetahui yang dibentuk oleh keterbukaan, salib memperlihatkan bahwa postur ini bukan hanya disiplin manusiawi. Peristiwa salib Kristus menunjuk pada cara ilahi untuk mengetahui dan mendiami dunia. Di salib, Allah tidak menarik diri dari konsekuensi belas kasihan, dan tidak pula meniadakannya dengan kuasa. Allah membiarkan kekerasan, ketidakadilan, dan penolakan dunia melukai kehidupan ilahi dari dalam.
Ini bukan kepasifan ilahi, melainkan kerentanan ilahi yang dipilih dengan bebas.
Di sini, belas kasihan dilepaskan dari segala instrumentalisasi. Belas kasihan tidak lagi berfungsi sebagai strategi perbaikan. Belas kasihan menjadi partisipasi aktif dalam dunia sebagaimana adanya—dunia yang terluka, menolak, dan belum selesai. Salib Kristus menyingkapkan belas kasihan tanpa penguasaan dalam bentuknya yang paling radikal.
Hal ini, secara relevan dan signifikan, mendesak kita untuk memahami apa itu sebenarnya pengetahuan.
Banyak cara mengetahui modern diorganisasikan oleh kendali. Kita mempercayai apa yang dapat diukur, diprediksi, dan dikelola. Pengetahuan dinilai dari apa yang memungkinkan kita lakukan. Ketika tindakan tidak lagi mungkin, pengetahuan pun tampak rapuh dan sia-sia.
Peristiwa salib menggugat logika ini. Ia menghadirkan bentuk mengetahui yang tetap setia bahkan ketika hasil tidak dapat dipastikan. Dalam arti ini, salib bukan hanya simbol teologis, tetapi juga peristiwa epistemologis. Ia menyingkap batas-batas penguasaan sebagai syarat kebenaran.
Mengetahui melalui peristiwa salib berarti mengetahui tanpa memiliki, tetap hadir tanpa jaminan, dan melihat dengan jernih tanpa benteng jarak.
Tentu, ini tidak berarti salib memuliakan penderitaan atau membenarkan kekerasan. Sebaliknya, salib membuka kedok struktur-struktur yang membungkam suara-suara kejujuran dan yang menghancurkan kehidupan. Namun, salib menolak menanggapi struktur-struktur itu dengan logika yang sama. Jawaban atas dominasi bukanlah dominasi tandingan. Jawaban atas kekerasan bukanlah kekuatan yang lebih besar. Salib menyingkapkan kemungkinan lain, yaitu kesetiaan yang tidak mundur dan tidak menguasai.
Dalam terang ini, esplanchnisthē dan theopatheia saling berkaitan. Tak terpisahkan.
Esplanchnisthē menamai momen ketergerakan—pembukaan yang mendalam di mana kenyataan menyapa dan menyentuh kita. Theopatheia menamai postur yang tetap terbuka ketika sapaan dan sentuhan itu memerlukan pengorbanan yang nyata. Salib adalah tempat di mana ketergerakan dan keteguhan untuk tetap terbuka bertemu secara utuh.
Belas kasihan di sini tidak lagi menjadi respons yang membawa kita keluar dari penderitaan. Belas kasihan dalam peristiwa salib menjadi komitmen untuk tetap bersama penderitaan tanpa menyerah pada keputusasaan atau penguasaan. Mengetahui berubah menjadi sebuah praktik “menanggung-bersama”.
Ini membawa implikasi yang mendalam bagi cara kita hidup di tengah krisis-krisis kontemporer.
Di dunia yang ditandai oleh kerusakan ekologis, pengungsian, dan trauma yang belum terselesaikan, kita sering tergodauntuk memilih salah satu dari dua ekstrem: penguasaan atau penarikan diri. Entah kita mencari solusi yang menjanjikan kendali atas kompleksitas, atau kita berpaling karena merasa tidak ada lagi yang dapat dilakukan.
Salib menolak kedua pilihan ini. Salib tidak menawarkan cetak biru untuk memperbaiki dunia, dan tidak pula mengizinkan pelarian diri. Salib menyingkapkan cara mengetahui dan cara berada yang tetap setia ketika keberhasilan dan pelarian tidak tersedia.
Kesetiaan semacam ini menuntut. Ia meminta kesabaran tanpa optimisme palsu, tanggung jawab tanpa jaminan, dan harapan tanpa ilusi. Ia menuntut kita tetap memperhatikan apa yang terluka tanpa mengklaim kepemilikan atas penyembuhannya.
Ini bukan kelemahan. Ini adalah keberanian dalam bentuk yang lain.
Hidup dalam terang salib berarti menerima bahwa ada kebenaran-kebenaran yang tidak dapat diketahui dari jarak aman. Kebenaran-kebenaran itu menuntut kedekatan. Mereka meminta sesuatu dari kita. Mereka mengubah kita. Pengetahuan menjadi mahal karena ia mengikat kita pada apa yang kita ketahui.
Di sini, belas kasihan bukan lagi emosi yang kita kelola. Belas kasihan menjadi partisipasi yang kita jalani. Dan partisipasi ini membentuk kembali cara kita memandang dunia: bukan sebagai masalah yang harus diselesaikan, tapi sebagai kenyataan yang menuntut pertanggungjawaban.
Dengan demikian, salib bukanlah kegagalan belas kasihan. Ia adalah penyingkapannya. Salib memperlihatkan apa itu belas kasihan ketika dilucuti dari kuasa, efisiensi, dan kendali. Salib menunjukkan bahwa kebenaran terdalam dari belas kasihan terletak bukan pada kemampuannya untuk berhasil, melainkan pada keteguhannya untuk tidak meninggalkan.
Dalam arti ini, salib menyiapkan ruang bagi pengharapan yang berbeda—bukan pengharapan bahwa segalanya akan diperbaiki, tetapi pengharapan bahwa kesetiaan kepada kehidupan tidaklah sia-sia. Pengharapan ini akan menjadi lebih terang ketika kita berbicara tentang kebangkitan. Namun pengharapan bermula di sini, di tempat di mana belas kasihan bertahan tanpa penguasaan dan pengetahuan tetap setia tanpa kepemilikan.
Di bawah bayang-bayang salib Kristus, kita diajak untuk meninjau ulang apa arti mengetahui dengan baik. Mengetahui dengan baik bukan berarti mengetahui bagaimana mengatasi dunia. Mengetahui dengan baik berarti mengetahui bagaimana tetap tinggal bersama dunia—dengan jujur, sabar, dan setia.

Tinggalkan komentar